S E H A T

Baca dan Anda pun semakin Sehat

  • ...........Penulis..........

  • Protected by Copyscape Plagiarism Checker
  • ……..Kategori………

  • …………Arsip…………

  • …….Alih bahasa……

  • …………Baner…………

  • Universitas Indonesia
  • Pusat Informasi Beasiswa UI

Pap Smear dan Kanker Serviks dalam Aksi Simpatis UI 10 November 2009

Posted by Alin aun pada November 13, 2009

Sebelum berlanjut pada laporan saya mengenai aksi simpatis pap smear di bundaran Hotel Indonesia Jakarta, saya ingin mengajak Anda untuk terlebih dahulu mengerti sedikit hal mengenai Pap Smear.

Sejarah penemuan Pap Smear

Pap Smear pertama kali dicetuskan oleh seorang dokter berkebangsaan Yunaniyag bernama George Nicolas Papanicolaou. Dokter Papanicolaou memulai studi studi tentang sitologi vagina pada tahun 1920, yakni tahun ketika ia menginjak usia 37 tahun. Setelah memahami tentang perubahan sitoogi flora normal pada vagina, ia menemukan beberapa kejanggalan yang mengindikasikan beberapa kasus keganasan. Dalam penemuannya ia berkata, “Pengamatan pertama sel-sel kanker dalam uterus leher rahim adalah salah satu pengalaman yang paling mendebarka sepanjang karir ilmiah saya.” Ia pun menerbitkan sebuah makalah berjudul New Cancer Diagnosis-Diagnosis Kanker Baru pada tahun 1928.Di tahun yang sama, Dr Papanicolaou menjadi warga negara Amerika Serikat dan dipromosikan menjadi Asisten Profesor Anatomi di Cornell. Dan di sanalah, yakni pada tahun 1939, Dr Papanicolaou memulai reevaluasi pendeteksi Vaginal Smear pada vagina. Semua perempuan pasien diminta untuk mengambil vagina smear rutin di rumah sakit New York. Dr Herbert Traut, seorang ahli patologi kebidanan, bekerja sama dengan Dr Papanicolaou untuk memvalidasi potensi diagnostik vagina smear. Pada tahun 1943, mereka menerbitkan temuan dan kesimpulan dalam monografi terkenal, Diagnosis of Uterine Cancer by the Vaginal Smear-Diagnosa Kanker Rahim oleh Vaginal Smear.” Prosedur diagnostik dinamakan Pap Smear. Pap Smear merupakan cara dini untuk mendeteksi kanker rahim (kanker serviks), yakni dengan cara mendeteksi kelainan sel-sel di mulut rahim.

Pemeriksaan Pap Smear

Pemeriksaan Pap Smear dapat dilakukan kapan pun, kecuali pada masa haid. Pemeriksaan Pap smear dianjurkan bagi perempuan yang sudah menikah atau sudah melakukan hubungan seksual minimal 1 tahun sekali. Pengambilan pap smear dilakukan 10 hari setelah bersih menstruasi dan 2 x 24 jam. Dalam pelaksanaannya, sebelum dilakukan Pap smear wanita tersebut dilarang melakukan hubungan seksual karena akan mengaburkan hasil pemeriksaan.

pap smear

Mengapa Pap Smear dibutuhkan?

Seperti yang telah diberitahukan sebelumnya, Pap Smear merupakan cara dini untuk mendeteksi kanker serviks.

Beberapa Fakta mengenai Pap Smear, dikutip dalam Penanganan Nyeri pada Kanker Serviks Stadium Lanjut oleh I Ketut Suwiyoga

  • Kanker serviks adalah penyebab kematian kedua tersering pada wanita umur 15-34 tahun dan merupakan penyebab utama kematian pada wanita umur 35-54 tahun (Putri, 1999)
  • Sebagian besar kanker serviks terdiagnosis pada stadium lanjut, bahkan terminal
  • Angka kematian yang tinggi berhubungan dengan keterbatasan sumber daya manusia, sarana dan prasarana, pengetahuan/pendidikan masyarakat, dan kebudayaan kesehatan. Akan tetapi faktor yang paling menonjol adalah keterlambatan diagnosis kanker serviks dimana sebagian besar terdiagnosis pada stadium invasif, stadium lanjut, bahkan stadium terminal. Karena itu, terapi operatif, sitostatika, radiasi baik secara sendiri maupun secara kombinasi tidak memuaskan, sehingga pilihan terapi adalah paliatif. Terapi paliatif ini terutama ditujukan kepada nyeri akibat kanker serviks, perdarahan pervaginam, gagal ginjal, dan lain-lain akibat metastasis.

Aksi Simpatis Mahasiswa FKM UI pada 10 November 2009 di Bundaran Hotel Indonesia

Dalam upaya peningkatan kepedulian perempuan Indonesia untuk mendeteksi kanker leher rahim secara dini, Mahasiswa FKM UI melalui mata kuliah PPM (Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat) pada tanggal 10 November 2009 melakukan aksi simpatis Pap Smear di Bundaran Hotel Indonesia Jakarta. Aksi ini bukanlah aksi yang semata-mata dilakukan demi memenuhi mata ajar kuliah PPM, melainkan justru merupakan upaya mahasiswa untuk menindaklanjuti masalah Pap Smear setelah terlebih dahulu melakukan survey di puskesmas-puskesmas bilangan Jakarta. Survey menunjukkan bahwa pada umumnya puskesmas-puskesmas di Jakarta tidak merutinkan program pelayanan pap smear. Terlebih lagi ditambah dengan kenyataan bahwa sosialisasi pap smear bahkan masih dapat dikatakan sangat kurang diterapkan di wilayah semodern Jakarta. Hal ini tentu mempertegas kenyataan bahwa petugas kesehatan masih belum maksimal dalam mengatasi masalah kematian Ibu di Indonesia. Apalagi, dalam salah satu wawancara saya dengan salah satu petugas kesehatan di sebuah puskesmas di Jakarta mengatakan bahwa umumnya perempuan-perempuan (dalam kasus ini ialah Ibu-ibu) masih menganggap pemeriksaan pap smear sebagai suatu hal yang tabu untuk dilakukan.

Aksi yang dilakukan selama kira-kira 2 jam tersebut diwarnai dengan pembagian bunga, pin, flayer yang berisi tentang sosialisasi pap smear, serta orasi-orasi para peserta aksi yang diikuti oleh paduan suara slogan hingga yel-yel. Aksi ini semata-mata dilakukan untuk mengingatkan pentingnya nyawa seorang ibu kepada orang-orang serta media. Satu hal yang saat itu saya rasakan sebagai salah satu peserta aksi, saya merasa sangat miris dengan kenyataan bahwa ada banyak sekali perempuan Indonesia yang terlanjur sakit bahkan terlanjur meninggal akibat kanker serviks karena kekurangtahuan dan kekurangpedulian mereka terhadap pemeriksaan pap smear.

Andaikan wanita-wanita Indonesia seluruhnya memahami hal ini tentu Indonesia tidak perlu kehilangan seorang wanita rata-rata 26,9 persen dari setiap 1000 kelahiran hidup(Depkes). Yeah, jika dalam aksi politik, kita sering mendengar para mahasiswa meneriakan slogan “Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyar Indonesia!” Maka dalam aksi ini Anda akan mendengar teriakan slogan baru yang jarang terdengar oleh mahasiswa. Slogan tersebut berbunyi,.. “Hidup Mahasiswa! Hidup Wanita Indonesia!”

Aksi mahasiswa menawarkan solusi. Sungguh aneh jika sulusi yang sudah susah payah disuarakan mahasiswa malah justru dianggap sebagai angin lalu saja. Saatnya pemerintah untuk turut memperhitungkan suara Mahasiswa.

Iklan

3 Tanggapan to “Pap Smear dan Kanker Serviks dalam Aksi Simpatis UI 10 November 2009”

  1. ocekojiro said

    Setuju… Aksi mahasiswa memang sebaiknya menyentuh seluruh aspek, termasuk kesehatan. karena semakin dini kita mengetahui seuah penyakit (kanker) maka harapan akan kesemuhan akan lebih besar.
    Trims.

    http://ocekojiro.wordpress.com/

  2. Ahyar said

    Itu salah satu usaha pencegahan/ tindakan wal yang bagus untuk mencegah penyakit lebih lanjut, serta untuk mengetahui lebih dini, sehingga bisa mengobati segera. Trims.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: